Loading...

Peranan Pasta Gigi Dengan Kandungan Enzim Pada Penderita Sariawan

Pengantar : kolom ilmiah ini berisi artikel yang didasarkan dari penelitian bersama antara PT Enzym BI dengan institusi pendidikan.

Juni Handajani, A. Supartinah dan Alexander Agung

Sariawan merupakan luka/lesi yang sering terjadi pada mukosa mulut dan banyak orang mengalaminya. Ada dua macam tipe sariawan yaitu sariawan akut dan sariawan kronis. Luka/lesi ini dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu. Pada sariawan akut dapat sembuh dengan sendiri dalam beberapa hari sedangkan pada sariawan kronis sulit sembuh apabila tidak diberi tindakan tertentu. Ada juga tipe lesi sariawan setelah pulih kemudian setelah beberapa waktu yang bervariasi akan timbul kembali yang sering disebut tipe rekuren. Berbagai pendapat tentang penyebab sariawan telah dikemukakan, hal ini berpengaruh terhadap pengobatan yang diberikan.

Salah satu pendapat menyebutkan bahwa sariawan disebabkan oleh infeksi bakteri sehingga sering diberikan pengobatan dengan cara pemberian bahan kumur sebagai bahan antiseptik. Penyebab sariawan secara pasti belum diketahui, tetapi ada yang beranggapan bahwa luka ini merupakan manifestasi dari respon imun terhadap iritasi tertentu seperti trauma minor. Beberapa faktor predisposisi antara lain stress emosional dan perubahan hormonal. Pendapat lain mengemukakan bahwa sariawan merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap makanan maupun mikroorganisme dalam rongga mulut.

Akumulasi bakteri plak dan produknya pada permukaan gigi dan subgingiva merupakan faktor inisiasi terjadinya penyakit pada rongga mulut. Diperkirakan lebih dari 300 spesies bakteri yang ditemukan dalam rongga mulut manusia tetapi diperkirakan hanya 10 – 20 spesies yang berperan dalam patogenesis penyakit rongga mulut.

Ludah merupakan cairan rongga mulut yang berfungsi untuk melindungi jaringan di dalam rongga mulut dengan cara pembersihan secara mekanis maupun fungsi antimikroba (bakteriostatis). Pada zaman sekarang oleh karena konsumsi makanan yang mengandung bahan-bahan kimia seperti pewarna, perasa, pengawet dan insektisida diduga telah berperanan terhadap kerusakan sistem pertahanan ludah. Selain itu pemakaian pasta gigi yang mengandung detergen yang melebihi batas toleransi maupun penggunaan bahan kumur berbasis antiseptik yang berlebihan juga berperanan dalam kerusakan sistem pertahanan ludah. Apabila sistem pertahanan ludah telah rusak maka akan berakibat terhadap kerusakan fungsi ludah sebagai bakteriostatik sehingga terjadi perkembangan bakteri patogen. Pada keadaan sariawan diduga terjadi perubahan pada sistem pertahanan ludah yang mengakibatkan berkembangnya bakteri penyebab sariawan.

Bakteri patogen akan mempengaruhi jalannya proses penyakit dengan cara memproduksi substansi yang toksik terhadap jaringan, langsung menginvasi jaringan pejamu, dan menstimulasi respon pejamu. Bakteri Streptococcus dapat menghasilkan enzim histolitik (menghancurkan jaringan) dan substansi toksik (hyaluronidase, protease, dan asam organik). Bakteri gram positif pada sub gingiva memproduksi berbagai produk toksik yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan seperti : asam butirat dan propionat, amina, senyawa sulfur volatile, indole, amonia, dan glikan. Peptydoglycan pada dinding sel bakteri gram positif bisa mempengaruhi berbagai respon pertahanan pejamu seperti mengaktivasi komplemen, menstimulasi makrofag, dan lain-lain. Hyaluronidase sebagai suatu enzim yang dihasilkan Streptococcus dapat mengubah permeabilitas gingiva ataupun kerusakan jaringan ikat pada gingiva.

Ada satu sistem pertahanan alamiah terhadap mikroorganisme dalam ludah yang dikenal dengan sebutan Laktoperoksidase sistem (LP sistem). LP sistem memiliki tiga komponen yaitu enzim laktoperoksidase, tiosianat dan hidrogen peroksidase (H2O2). Fungsi LP sistem adalah mempertahankan bakteri yang menguntungkan dan mampu membunuh bakteri yang merugikan pada rongga mulut. Amiloglukosidase berfungsi untuk membentuk hidrogen peroksida dengan cara memfermentasi sisa saripati dari makanan yang diubah menjadi glukosa. Glukosa ditambah dengan ludah dan oksigen yang ada di mulut akan diubah menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida dengan menggunakan enzim glukosa-oksidase. Laktoperoksidase, lisosim dan laktoferin merupakan protein yang memiliki beberapa fungsi biologik yaitu aktivitas antibakterial, anti inflamasi, pertahanan terhadap sistem gastrointestinal dan berpartisipasi terhadap sistem imunitas sekretori lokal yang bersinergis dengan beberapa imunoglobulin.

S IgA (sekretori imunoglobulin A) merupakan salah satu imunoglobulin yang terdapat dalam ludah. S IgA akan bereaksi dengan antigen untuk membentuk kompleks imun dengan mengikat komplemen. Antibodi ini akan mengikat bakteri, kemudian antibodi ini akan melapisi permukaan bakteria, dan mengganggu proses metabolismenya ataupun mencegah agregasi pada permukaan gigi atau gingiva. Selanjutnya sIgA dapat menghambat aktivitas enzim yang berasal dari bakteria dan menghambat perlekatan bakteria ke permukaan mukosa maupun gigi serta sIgA menetralisir toksin bakteri.

Penelitian tentang peranan pasta gigi dengan kandungan enzim telah dilakukan terhadap 30 subyek penelitian yang berasal dari siswa SMK Muhammadiyah 1 Turi dan MAN Turi, Yogyakarta. Subyek penelitian tersebut dibagi menjadi 2 kelompok yaitu penderita sariawan sebanyak 15 orang dan 15 orang sebagai kontrol dengan keadaan mukosa rongga mulut sehat. Semua subyek diinstruksikan untuk menggosok gigi sehari 2 kali dengan pasta gigi dengan kandungan enzim. Ludah subyek ditampung, kemudian diukur kadar s IgA menggunakan ELISA kit produksi dari Salimetrics LLC, California.

Hasil pemeriksaan mukosa pasien penderita stomatitis menunjukkan dari 15 pasien penderita stomatitis setelah menggunakan pasta gigi dengan kandungan enzim terdapat 13 pasien mukosa sembuh dan 2 pasien masih terdapat stomatitis. Kemungkinan pada 2 orang pasien yang masih menderita stomatitis merupakan stomatitis kronis yang membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu menggunakan pasta gigi dengan kandungan enzim untuk menyembuhkan keadaan stomatitisnya.

Pasta gigi dengan kandungan enzim amiloglukosidase, glukosa-oksidase, laktoperoksidase, lisosim dan laktoferin merupakan pasta gigi dengan menggunakan protein alamiah seperti yang terdapat dalam ludah. Kandungan protein alamiah yang terdapat dalam pasta gigi ini diharapkan dapat memperbaiki sistem pertahanan ludah sehingga penyakit rongga mulut dapat dicegah maupun diobati.

Prinsip kerja pasta gigi dengan kandungan enzim adalah mengembalikan fungsi sistem alamiah peroksidase. Tiosianat sudah tersedia dalam ludah, maka sistem enzimatik dalam pasta gigi dengan kandungan enzim berfungsi untuk membentuk hidrogen peroksida yang cukup untuk bereaksi dengan tiosianat agar terbentuk hipotiosianat. Enzim yang digunakan adalah amiloglukosidase dan glukosa-oksidase. Adapun proses pembentukan hidrogen peroksidasenya adalah sebagai berikut: enzim amiloglukosidase memfermentasi sisa saripati (makanan) diubah menjadi glukosa. Glukosa ditambah dengan oksigen yang ada di mulut diubah menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida. Reaksi kedua ini menggunakan enzim glukosa-oksidase. Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan tiosianat yang sudah ada di dalam ludah akan menghasilkan hipotiosianat dan air. Hipotiosianat inilah yang berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatis). Amiloglukosidase dan glukosa-oksidase dalam sistem enzimatik berfungsi membangkitkan pembentukan hidrogen peroksida yang diperlukan agar sistem laktoperoksidase dapat bekerja optimal.

Sistem laktoperoksidase mempunyai kemampuan berikatan dengan s IgA sehingga mampu meningkatkan aktivitas enzim yang terdapat dalam ludah. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan pendapat Tenovuo tersebut, hal ini dapat dilihat bahwa kadar sIgA tinggi pada penderita stomatitis maupun sehat sebelum pemberian pasta gigi dengan kandungan enzim dan mengalami penurunan setelah menggunakan pasta gigi dengan kandungan enzim selama 7 hari. Tetapi penurunan kadar sIgA yang terjadi justru mengarah ke keadaan normal, hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian kadar sIgA setelah menggunakan pasta enzim baik pada penderita stomatitis maupun sehat menunjukkan hasil yang hampir sama. Hal ini diduga enzim laktoperoksidase yang terdapat dalam pasta gigi mempunyai kemampuan antibakteri terhadap bakteri penyebab stomatitis. Kandungan enzim yang terdapat dalam pasta gigi bekerja efektif karena adanya enzim laktoperoksidase dan kombinasi enzim tersebut dengan hidrogen peroksidase serta adanya ko-faktor thiosianat. Enzim laktoperoksidase dan thiosianat merupakan komponen dalam ludah, sedangkan hidrogen peroksidase berasal dari metabolisme bakteri dalam rongga mulut. Kadar produksi peroksidase dari bakteri sangat rendah untuk mengaktivasi sistem daya antibakteri ludah. Konsentrasi optimum hidrogen peroksidase yang mampu berfungsi sebagai daya antibakteri dalam ludah adalah konsentrasi 0,0001%, sehingga untuk mencapai konsentrasi tersebut perlu ditambahkan enzim amiloglukosidase dan glukose oksidase seperti yang terdapat dalam pasta gigi.

Selain itu, kemampuan antibakteri pasta gigi dengan sistem laktoperoksidasenya juga mampu mengubah thiosianat menjadi hipothiosianat. Hipothiosianat ini akan beraksi sebagai antibakteri dengan adanya interaksi enzim glycolitic oksidasi-reduksi yang mengandung group thiol esensial sehingga mampu membunuh bakteri penyebab stomatitis. Enzim lisozim yang terdapat dalam pasta enzim juga mampu menyerang bakteri dengan cara menyerang dinding selnya sehingga menjadi porous sehingga bakteri kehilangan cairan sel akhirnya mati. Enzim ini berfungsi efektif sebagai antibakteri apabila bekerjasama dengan laktoferin dan s IgA. Enzim laktoferin dalam pasta enzim juga berfungsi sebagai bakteriostatik dengan cara mengikat ion Fe3+ yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme. Dalam ludah laktoferin terikat pada s IgA sedangkan sIgA sendiri dapat mengikatkan diri pada reseptor spesifik pada permukaan bakteri seperti S.mutans. Laktoferin juga digunakan sebagai sistem penolakan sekunder yaitu bila tidak ada s IgA atau bila s IgA tidak mampu mengikat diri pada bakteri atau bila s IgA sebagian putus oleh reaksi enzimatis. Laktoferin dapat bekerja efektik sebagai antimikroba bekerja sama dengan lisozim dan laktoperoksidase.

Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan pasta gigi dengan kandungan enzim bekerja dengan cara memperbaiki kualitas ludah dan bukan secara langsung menyembuhkan mukosa mulut yang terinfeksi. Kualitas ludah yang sehat akan mengembalikan fungsi pertahanan alami ludah sebagai bakterisid terhadap mikroba patogen.

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : pasta gigi dengan kandungan enzim amiloglukosidase, glukosa-oksidase, laktoperoksidase, lisosim dan laktoferin memiliki kemampuan menyembuhkan kondisi sariawan yang ditunjukkan penurunan kadar sIgA.

1 Bagian Biologi Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta
2 Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta
3 PT. Enzym Bioteknologi Internusa, Jakarta

3 Comments


Leave a Reply

Your email address will not be published

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>